berapa berapa berapa

TERIMA KASIH

selamat datang....
komentarnya di isi ya....
join juga, biar makin seru...

Thursday, October 4, 2012

SEDIMENTASI, EROSI, DAN EUTROFIKASI


SEDIMENTASI, EROSI, DAN EUTROFIKASI


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekologi Akuatik



Disusun oleh:
1.      ENI YUPIKA
J2B 008 029
2.      NOVI SULTONIA FARIDA
J2B 008 053
3.      ANINDITIA SABDANINGSIH
J2B 009 003
4.      RADITA SEKARNINGRUM
J2B 009 007
5.      LARAS SATY
J2B 009 008



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012


DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................ iv
I.     PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2  Perumusan Masalah........................................................................................ 2
1.3  Tujuan ........................................................................................................... 2
II.  ISI
2.1  Pengertian Sedimentasi.................................................................................. 3
2.2  Sumber Sedimen............................................................................................ 4
2.3  Proses Sedimentasi......................................................................................... 4
2.4  Pengertian Erosi............................................................................................. 5
2.5  Penyebab Erosi............................................................................................... 6
2.5.1 Faktor Iklim.......................................................................................... 6
2.5.2 Faktor Tanah......................................................................................... 7
2.5.3 Faktor Topografi................................................................................... 8
2.5.4 Faktor Vegetasi..................................................................................... 9
2.5.5 Faktor Manusia..................................................................................... 9
2.6  Jenis Erosi...................................................................................................... 10
2.6.1Erosi Air................................................................................................. 10
2.6.2Erosi Angin............................................................................................ 11
2.6.3Erosi Gletser........................................................................................... 11
2.7  Dampak Erosi ................................................................................................ 11
2.8  Pengertian Eutrofikasi.................................................................................... 12
2.9  Proses Eutrofikasi.......................................................................................... 12
2.10 Dampak Eutrofikasi..................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 14



BAB I
PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
Pertambahan jumlah penduduk di Indonesia memperlihatkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak tahun 2000. Sejalan dengan pertambahan penduduk, terjadi pula peningkatan kebutuhan lahan untuk memenuhi berbagai aktivitas pembangunan, hal ini tidak sebanding dengan luas lahan yang ada. Sumber daya lahan yang tersedia jumlahnya tetap dan sangat terbatas. Kondisi ini akan meningkatkan tekanan penduduk terhadap sumber daya lahan, apabila dibiarkan terus menerus, maka dapat menyebabkan degradasi lahan.
Degradasi lahan yang terjadi  akan mengakibatkan meluasnya kerusakan lahan terutama kerusakan lahan hutan. Pengurangan luas hutan yang masih berlangsung sampai saat ini disebabkan antara lain oleh penebangan liar, pembukaan hutan, dan lain sebagainya akan mengakibatkan terganggunya hutan. Kerusakan ini akan berakibat semakin meluasnya lahan kritis, terutama lahan kritis dalam Daerah Aliran Sungai (DAS). Kerusakan lahan di DAS akan mengakibatkan kerusakan pada banyak hal seperti, air sungai yang sangat keruh, pendangkalan di sungai dan waduk (sedimentasi), penggerusan tebing sungai, pencucian hara tanah, menipisnya solum tanah, dan menurunnya produktivitas lahan yang merupakan sebagian dari dampak terjadinya erosi.
Terbatasnya lahan untuk tempat tinggal manusia juga mempengaruhi sedikitnya volume  tempat penampungan sampah, hal ini tentunya turut berperan dalam pencemaran lingkungan baik tanah, air, maupun udara. Tidak jarang pula penduduk lebih memilih membuang sampah di sungai daripada di tempat sampah. Kebiasaan ini akan berdampak pada lingkungan, selain menimbulkan bau menyengat, hal ini juga menyebabkan eutrofikasi yang dapat menurunkan kualitas perairan menurun baik pada kualitas air maupun biota perairan yang ada di sungai.



1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah makalah ini yaitu apakah pengertian dari sedimentasi, erosi, dan eutrofikasi; bagaimana proses terjadinya, jenis, dan akibat dari ketiga hal tersebut (sedimentasi, erosi, dan eutrofikasi).

1.3         Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mngetahui pengertian, proses terjadinya, jenis, dan akibat dari sedimentasi, erosi, dan eutrofikasi.

BAB II
ISI

2.1     Pengertian Sedimentasi
Sedimen adalah hasil proses erosi, baik berupa erosi permukaan, erosi parit, atau jenis erosi tanah lainnya. Sedimen umumnya mengendap dibagian bawah kaki bukit, di daerah genangan banjir, di saluran air, sungai, dan waduk. Hasil sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang terjadi di daerah tangkapan air yang diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Hasil sedimen biasanya diperoleh dari pengukuran sedimen terlarut dalam sungai (suspended sediment) atau dengan pengukuran langsung di dalam waduk, dengan kata lain bahwa sedimen merupakan pecahan, mineral, atau material organik yang ditransforkan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara, angin, es, atau oleh air dan juga termasuk didalamnya material yang diendapakan dari material yang melayang dalam air atau dalam bentuk larutan kimia (Asdak, 2007).
Sedimentasi sendiri merupakan suatu proses pengendapan material yang ditranspor oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dan proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah pengendapan dari material-material yang diangkut oleh angin. Proses tersebut terjadi terus menerus, seperti batuan hasil pelapukan secara berangsur diangkut ke tempat lain oleh tenaga air, angin, dan gletser. Air mengalir di permukaan tanah atau sungai membawa batuan halus baik terapung, melayang atau digeser di dasar sungai menuju tempat yang lebih rendah. Hembusan angin juga bisa mengangkat debu, pasir, bahkan bahan material yang lebih besar. Makin kuat hembusan itu, makin besar pula daya angkutnya. pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin tadi membuat terjadinya sedimentasi (Soemarto,1995).
 Proses dari transpor sedimen pada muara sangat kompleks dan hal ini dapat menyulitkan dalam memahamai pola dari akumulasi sedimen. Masukan utama sedimen yang ada di muara seringkali berasal dari sungai, dengan ukuran butitran yang berkisar dari kerikil hingga butiran pasir. Sumber utama sedimen penting lain umunya terbawa ke muara dari lingkungan laut, misal daerah pantai, dikirm ke daerah muara oleh arus pasang surut yang mengalir ke mulut muara. Tetapi umumnya sumber sedimen didominasi oleh suplai sungai tersebut. Kontribusi sedimen berasal dari sungai dan material yang berasal dari laut bebas kemudian bercampur di daerah muara. Percampuran ini kemudian dikendalikan oleh mekanisme sedimen transpor yang dihasikan dari arus sungai dan pergerakan pasang surut serta pola sirkulasi yang ada di daerah muara tersebut. Proses sedimen transpor ini bervariasi dari jam ke musim tergantung dari tahapan pasang surut (Arsyad, 2010).

2.2     Sumber Sedimen
Setiap sungai membawa sejumlah sedimen terapung (suspended sediment) serta menggerakkan bahan-bahan padat di sepanjang dasar sungai sebagai muatan dasar (bed load). Berat jenis bahan-bahan tanah adalah kira-kira 2,65 g/cc, maka partikel-partikel sedimen terapung cenderung untuk mengendap ke dasar alur, tetapi arus ke atas pada aliran turbulen menghalangi pengendapan secara gravitasi tersebut. Sedimen yang terkandung dalam air dan mencapai suatu waduk, maka kecepatan dan turbulensinya akan sangat jauh berkurang. Muatan sedimen terapung pada sungai-sungai dikur dengan cara mengambil contoh air, menyaringnya untuk memisahkan sedimen, mengeringkannya, dan kemudian menimbang bahan-bahan yang disaring tersebut. Muatan sedimen dinyatakan dalam parts per million (ppm). Sedimen yang tererasi dalam suatu lembah sungai dalam suatu kejadian hujan dapat diendapkan di alur sungai dan tinggal disana hingga hujan berikutnya mendorongnya ke hilir. Bagian-bagian tertentu dari lembah sungai mungkin lebih peka terhadap erosi daripada bagian-bagian lainnya, sehingga muatan sedimen yang lebih besar dapat diharapkan bila curah hujan terpusat pada daerah semacam ini (Sasongko, 1991).

2.3     Proses Sedimentasi
Proses sedimentasi meliputi proses erosi, angkutan (transportasi), pengendapan (deposition), dan pemadatan (compaction) dari sedimen itu sendiri. Dimana proses ini berjalan sangat kompleks, dimulai dari jatuhnya hujan yang menghasilkan energi kinetik yang merupakan permulaan dari proses erosi. Begitu tanah mnjadi partikel halus lalu menggelinding bersama aliran, sebagian tertinggal di atas tanah sedangkan bagian lainnya masuk ke sungai terbawa aliran menjadi angkutan sedimen (Soewarno, 1991).
Sedimen yang sering djumpai di dalam sungai, baik terlarut atau tidak terlarut, adalah merupakan produk dari pelapukan batuan induk yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama perubahan iklim. Hasil pelapukan batuan induk tersebut kita kenal sebagai partikel-partkel tanah. Pengaruh tenaga kinetis air hujan dan aliran air permukaan (untuk kasus di daerah tropis), partikel-partikel tanah tersebut dapat terkelupas dan terangkut ke tempat yang lebih rendah untuk kemudian masuk ke dalam sungai dan dikenal sebagai sedimen. Adanya transpor sedimen dari tempat yang lebih tinggi ke daerah hilir dapat menyebabkan pendangkalan waduk, sungai, saluran irigasi, dan terbentuknya tanah-tanah baru di pinggir-pinggir sungai (Asdak, 2007). 
Kapasitas angkutan sedimen pada penampang memanjang sungai adalah besaran sedimen yang lewat penampang tersebut dalam satuan waktu tertentu. Terjadinya penggerusan, pengendapan atau mengalami angkutan seimbang perlu diketahui kuantitas sedimen yang terangkut dalam proses tersebut. Sungai disebut dalam keadaan seimbang jika kapasitas sedimen yang masuk pada suatu penampang memanjang sungai sama dengan kapasitas sedimen yang keluar dalam satuan waktu tertentu. Pengendapan terjadi di mana kapasitas sedimen yang masuk lebih besar dari kapasitas sedimen seimbang dalam satuan waktu, sedangkan penggerusan adalah suatu keadaan dimana kapasitas sedimen yang masuk lebih kecil dari kapasitas sedimen seimbang dalam satuan waktu (Saud, 2008).

2.4     Pengertian Erosi
Erosi adalah pengikisan dan perpindahan tanah dari suatu tempat ke tempat lain yang diakibatkan oleh media alami. Erosi dan sedimentasi merupakan penyebab-penyebab utama dalam terjadinya kemerosotan produktivitas tanah-tanah pertanian, dan kemerosotan kuantitas serta kualitas air. Erosi itu sendiri meliputi proses : pelepasan partikel-partikel tanah (detachment), penghanyutan partikel-partikel tanah (transportation), dan pengendapan partikel- partikel tanah yang telah terhanyutkan (deposition) (Foster and Meyer, 1973) dalam Arsyad S, (2010). Besarnya erosi pada suatu lahan ditentukan oleh lima faktor yaitu jumlah dan intensitas hujan (erosivitas hujan); kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah); bentuk lahan (kemiringan dan panjang lereng); vegetasi penutup tanah; dan tingkat pengelolaan tanah.
Erosi tanah bukan saja disebabkan oleh penduduk sekitar hutan, tetapi secara menyeluruh penyebab erosi tanah adalah meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber daya alam yang tersedia makin tertekan, terutama hutan, sehingga menyebabkan tingkat erosi tanah makin tinggi dan secara otomatis diikuti kehilangan air (Arsyad S, 2010), sedangkan menurut Utomo (1989) Erosi merupakan proses dimana tanah, bahan mineral dilepaskan dan diangkut oleh air, angin atau gaya berat. Tanah longsor dan batu-batuan berjatuhan (mass wastage) merupakan akibat dari gaya berat yang makin ditingkatkan oleh air.

2.5     Penyebab Erosi
2.5.1    Faktor Iklim
Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung atau tidak langsung. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetik air hujan, terutama intensitas dan diameter butiran air hujan. Hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek, erosi yang terjadi biasanya lebih besar dari pada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama. Pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi, dengan kondisi iklim yang sesuai, vegetasi dapat tumbuh secara optimal. Sebaliknya, pada daerah dengan perubahan iklim besar, misalnya di daerah kering, pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan, tetapi sekali hujan turun, intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi (Asdak, 2002).
Proses erosi bermula dengan terjadinya penghancuran agregat-agregat tanah sebagai akibat pukulan air hujan yang mempunyai energi lebih besar  dari pada daya tahan tanah. Hancuran dari tanah ini akan menyumbat pori-pori tanah, maka kapasitas infiltrasi tanah akan menurun dan mengakibatkan air mengalir di permukaan tanah dan disebut sebagai limpasan. Limpasan permukaan mempunyai energi untuk mengikis dan mengangkut pertikel-partikel tanah yang telah dihancurkan. Selanjutnya jika tenaga limpasan permukaan sudah tidak mampu lagi mengangkut bahan-bahan ini akan diendapkan. Dengan demikian ada tiga proses yang bekerja secara berurutan dalam proses erosi, yaitu diawali dengan penghancuran agregat-agregat, pengangkutan, dan diakhiri dengan pengendapan (Utomo, 1989).
2.5.2    Faktor Tanah
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat kesuburan tanah. Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda. Kepekaan erosi tanah atau mudah tidaknya tanah tererosi adalah fungsi berbagai interaksi sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Sifat-sifat fisik dan kimia tanah yang mempengaruhi erosi adalah (1) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi infiltrasi, permeabilitas, dan kapasitas menahan air, dan (2) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur, terhadap dispersi, dan penghancuran agregat tanah oleh tumpukan butir-butir hujan dan aliran permukaan (Arsyad S, 2010).
Menurut Asdak (2002), Empat sifat tanah yang penting dalam menentukan erodibilitas tanah (mudah tidaknya tanah tererosi) adalah :
a)        Tekstur tanah
Tekstur tanah  biasanya berkaitan dengan ukuran dan porsi partikel-partikel tanah dan akan membentuk tipe tanah tertentu. Tiga unsur utama tanah adalah pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay). Di lapangan, tanah terbentuk oleh kombinasi ketiga unsur tersebut. Misalnya, tanah dengan unsur dominan liat, ikatan antar partikel-partikel tanah tergolong kuat dan dengan demikian tidak mudah tererosi. Sebaliknya, pada tanah dengan unsur utama debu dan pasir lembut serta sedikit unsur organik, memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya erosi.
b)        Unsur organik
Unsur organik terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil proses dekomposisi. Unsur organik cenderung memperbaiki struktur tanah dan bersifat meningkatkan permeabilitas tanah. Kumpulan unsur organik diatas permukaan tanah dapat menghambat kecepatan air larian, dan dengan demikian menurunkan potensi terjadinya erosi.
c)        Struktur tanah
Struktur tanah adalah susunan partikel-partikel tanah yang membentuk agregat. Struktur tanah mempengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap air tanah. Misalnya struktur tanah yang mempunyai kemampuan besar dalam meloloskan air larian, dan dengan demikian, menurunkan laju air larian dan memacu pertumbuhan tanaman.
d)       Permeabilitas tanah
Permeabilitas tanah menunjukan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur dan tekstur tanah serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menentukan permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian, menurunkan laju air larian.
2.5.3    Faktor Topografi
Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari.
Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian. Kecepatan air larian yang besar umumnya ditentukan oleh kemiringan lereng yang tidak terputus dan panjang serta terkonsentrasi pada saluran-saluran sempit yang mempunyai potensi besar untuk terjadinya erosi alur dan erosi parit. Kedudukan lereng juga menentukan besar kecilnya erosi. Lereng bagian bawah lebih mudah tererosi dari pada lereng bagian atas karena momentum air larian lebih besar dan kecepatan air larian lebih terkonsentrasi ketika mencapai lereng bagian bawah. Daerah tropis dengan topografi bergelombang dan curah hujan tinggi sangat potensial untuk terjadinya erosi dan tanah longsor (Asdak, 2002).
2.5.4    Faktor Vegetasi
Vegetasi merupakan lapisan pelindung atau penyangga antara atmosfer dan tanah. Suatu vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput yang tebal atau rimba yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi. Bagian vegetasi yang ada diatas permukaan tanah, seperti daun dan batang, menyerap energi perusak hujan, sehingga mengurangi dampaknya terhadap tanah. Sedangkan bagian vegetasi yang ada didalam tanah, yang terdiri atas sistem perakaran akan meningkatkan kekuatan mekanik tanah (Styczen and Morgan, 1995 dalam Arsyad S, 2010).
2.5.5    Faktor Manusia
Perbuatan manusia yang mengelola tanahnya dengan cara yang salah telah menyebabkan intensitas erosi semakin meningkat. Misalnya pembukaan hutan, pembukaan areal lainnya untuk tanaman perladangan, dan lain sebagainya. Maka dengan praktek konservasi, tanaman diharapkan dapat mengurangi laju erosi yang terjadi. Faktor penting yang harus dilakukan dalam usaha konservasi tanah,yaitu teknik inventarisasi dan klasifikasi bahaya erosi dengan tekanan daerah hulu. Untuk menentukan tingkat bahaya erosi suatu bentang lahan diperlukan kajian terhadap empat faktor, yaitu jumlah, macam dan waktu berlangsungnya hujan serta faktor-faktor yang berkaitan dengan iklim, jumlah dan macam tumbuhan, penutup tanah, tingkat erodibilitas di daerah kajian, dan keadaan kemiringan lereng (Asdak, 2002).


2.6     Jenis Erosi
2.6.1    Erosi Air
Suripin (2002) memaparkan mengenai jenis eosi berdasarkan bentuknya yaitu :
a)        Erosi percikan (splash erosion)
Erosi percikan adalah erosi oleh butiran air hujan yang jatuh ke tanah. Karena benturan butiran air hujan, partikel-partikel tanah yang halus terlepas dan terlempar ke udara.
b)        Erosi aliran permukaan
Erosi aliran permukaan adalah erosi yang terjadi hanya dan jika intensitas dan/atau lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi atau kapasitas simpan air tanah. Mengingat bahwa aliran permukaan terjadi tidak merata dan arah alirannya tidak beraturan, maka kemampuan untuk mengikis tanah juga tidak sama atau tidak merata untuk semua tempat.
c)        Erosi alur (Riil erosion)
Erosi alur yaitu erosi oleh air yang mengalir di permukaan tanah ke arah bawah lereng sebagai akibat terkonsentrasi aliran permukaan sehingga membentuk alur-alir kecil dengan kedalaman beberapa senti meter. Erosi ini terjadi pada permukaan tanah yang landai dan memiliki daya tahan yang seragam terhadap erosi.
d)       Erosi parit (Gully erosion)
Erosi parit yaitu erosi oleh air yang mengalir di permukaan tanah yang miring atau di lereng perbukitan yang membentuk alur-alur yang dalam dan lebarnya mencapai beberapa meter, hampir sama dengan erosi alur, sehingga pada mulanya erosi parit ini dianggap sebagai perkembangan lanjut dari erosi alur.
e)        Erosi Tebing Sungai
Erosi tebing sungai adalah erosi yang terjadi akibat pengikisan tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau oleh terjangan arus air sungai yang kuat terutama pada tikungan-tikungan. Erosi tebing akan lebih hebat jika tumbuhan penutup tebing telah rusak atau pengolahan lahan terlalu dekat dengan tebing.

f)         Erosi internal
Erosi internal adalah proses terangkutnya partikel-pertikel tanah ke bawah masuk ke celah-celah atau pori-pori akibat adanya aliran bawah permukaan. Akibat erosi ini tanah menjadi kedap air dan udara, sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi dan meningkatkan aliran permukaan atau erosi alur.
g)        Tanah longsor
Tanah longsor merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Berbeda dengan jenis erosi yang lain, pada tanah longsor pengangkutan tanah terjadi sekaligus dalam jumlah yang besar.
h)        Erosi oleh gelombang
Erosi oleh gelombang yaitu erosi yang terjadi oleh gelombang laut yang memukul ke pantai.
2.6.2    Erosi Angin
Erosi angin paling sering disaksikan di daerah-daerah kering di mana angin kencang sikat terhadap berbagai bentang alam, menerobos dan melonggarkan partikel tanah, yang terkikis dan diangkut menuju arah di mana angin mengalir. Contoh terbaik dari struktur yang dibentuk oleh erosi angin adalah batu jamur, biasanya ditemukan di padang pasir
2.6.3    Erosi Gletser
Erosi gletser yaitu erosi yang umumnya terjadi di daerah dingin di ketinggian. Ketika terjadi kontak antara tanah dengan gletser yang bergerak besamaan menyebabkan tanah tersebut diangkut oleh gletser, dan ketika mulai mencair maka akan disimpan dalam perjalanan saat bergerak dalam bentuk bongkahan es.

2.7     Dampak Erosi
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran dan lainnya. Erosi tidak hanya menyebabkan kerusakan tanah di tempat terjadinya erosi, tetapi juga kerusakankerusakan di tempat lain di mana erosi-erosi tersebut diendapkan (Asdak, 2002).

2.8     Pengertian Eutrofikasi
Eutrofikasi didefinisikan sebagai pengayaan (enrichment) air dengan nutrien atau unsur hara berupa bahan anorganik yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan mengakibatkan terjadinya peningkatan produktivitas primer perairan. Nutrient yang dimaksud adalah nitrogen dan fosfor. Eutrofikasi diklasifikasikan menjadi dua yaitu artificial atau cultural eutrophication dan natural eutrophication. Eutrofikasi diklasifikasikan sebagai artificial (cultural eutrophication) apabila peningkatan unsur hara di perairan disebabkan oleh aktivitas manusia dan diklasifikasikan sebagai natural eutrophication jika peningkatan unsur hara di perairan disebabkan oleh aktivitas alam (Effendi, 2003).

2.9     Proses Eutrofikasi
Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini. Masalah utama sebagai pemicu terjadinya proses peledakan kelimpahan fitoplankton di suatu perairan adalah kodisi lingkungan perairan tersebut yaitu adanya peningkatan nutrisi yang tidak seimbang pada trofik level di lapisan eufonik. Peningkatan masuknya nutrisi bisa merupakan proses alami (seperti proses umbulan atau upwelling, masukan dari air sungai yang tercemar) atau akibat aktivitas manusia. Selain itu buangan bahan organik diperairan biasanya berupa bahan nutrisi dari hasil pemupukan (fosfat, nitrogen dan potasium) sebagai penyumbang utama akan pencemaran di perairan sehingga mengakibatkan beberapa jenis biota perairan mati (Sediadi & Thoha, 2000).

2.10   Dampak Eutrofikasi
Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya (Anonim, 2011).
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Dekomposisi zat organik. [terhubung berkala]. www.wordpress.com. [diakses pada tanggal 28 september 2012, pukul 21.00

Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. UPT Produksi Media Informasi Lembaga Sumberdaya, IPB. Bogor Press

Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Penerbit Gadjah Mada University Press, Bulaksumur, Yogyakarta

________. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University. Yogyakarta

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta

Soemarto, C. D. 1995. Hidrologi Teknik. Penerbit Erlangga. Jakarta

Sasongko.Dj, 1991. Teknik Sumber Daya Air Edisi Ketiga. Penerbit Erlangga. Jakarta

Soewarno. 1991. Pengukuran dan Pengolahan Data Aliran Sungai. Penerbit NOVA. Bandung

Saud, Ismail. 2008. Jurnal Prediksi Sedimentasi Kali Mas Surabaya. Fakultas Teknik Sipil ITS. Surabaya

Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. ANDI. Yogyakarta

Sediadi, H., dan A. Thoha. 2000. Kelimpahan Dan Keanekaragaman Fitoplankton Di Perairan Sekitar Tambak Di Daerah Kamal, Tangerang, Jakarta. Jurnal. Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta

Utomo, W.H. 1989. Konservasi Tanah di Indonesia. CV Rajawali. Jakarta


No comments:

Post a Comment

bagaimana menurut kamu?

Post a Comment